Tampilkan postingan dengan label SOSOK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSOK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Pejuang Emansipasi Wanita "R.A. Kartini" By Slamet Priyadi

Denmas Priyadi Blog | Minggu, 21 April 2013 | 14:26 WIB
Raden Ajeng Kartini (1879 - 1959)
R.M. Adipati Ario Sosroningrat
SIAPA yang tak kenal dengan sosok Kartini? Seorang tokoh pejuang pergerakan wanita yang begitu gigih dalam memperjuangkan hak kaum perempuan untuk memiliki hak yang sama dengan kaum lelaki. Ya, Kartini tercatat dalam sejarah sebagai pejuang emansipasi wanita, pelopor kebangkitan kaum perempuan dari Jawa. Lahir di Kota Jepara pada tanggal 21 April 1879 dari seorang ibu bernama M.A Ngasirah anak dari Nyai Hajah Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur. Ayahnya seorang bangsawan Jawa, bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara putera dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang diangkat menjadi Bupati dalam usia 25 tahun.
Dari sebelas bersaudara kandung dan tiri, Kartini merupakan anak ke-5 dan tertua dari saudara perempuan sekandungnya yang lain bernama, Kardinah dan Roekmini. Kakak laki-lakinya bernama Sosrokartono adalah seorang yang pintar dan menguasai berbagai macam bahasa terutama bahasa Belanda. Ia banyak belajar bahasa Belanda dari kakaknya itu, dan mendapat izin untuk memperdalam bahasa Belanda di “ELS” (EuropeseLagere School) hingga usia 12 tahun sampai akhirnya dipingit karena akan dikawinkan olehK.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang.
Kartini, Kardinan dan Rokmini
Penguasaan dan kepandaian Kartini dalam berbahasa Belanda, digunakannya untuk menulis surat kepada salah satu teman akrabnya, Rosa Abendanon yang berasal dari Negeri Belanda. yang banyak mengindor atau mendukung pemikiran, ide dan gagasan-gagasannya. Kegemarannya membaca, baik dari koran, majalah dan buku-buku Eropa, menambah wawasan pemikiran Kartini yang semakin luas. Inilah yang menambah semangat dan membangkitkan motivasi Kartini mewujudkan cita-citanya memajukan derajat kaum perempuan pribumi yang masih rendah status sosialnya dengan membangun sekolah pendidikan keputrian.  
Gagasan Kartini itu mendapat dukungan dari residen Semarang, Mr. Stijthof setelah membaca keritikan dari Conrad van De Venter lewat tulisan-tulisannya di majalah De Gid yang menjelaskan bahwa, “orang Belanda sangat berhutang budi pada rakyat Hindia Belanda yang telah memberikan devisa Negara yang begitu besar kepada Belanda. Dan, pemerintah colonial harus mengembalikan hutang sebesar 187 juta Gulden melalui proyek-proyek kemanusiaan, salah satunya adalah pendidikan”. ”.)*Sri Hartatik, A.Ma.Pd. “Kumpulan Kisah Pahlawan Indonesia”hal. 66
Dalam masa pingitannya Kartini terus memikirkan, bagaimana caranya agar Ia bisa melanjutkan pendidikannya ke Batavia atau ke Eropa. Cita-cita Kartini yang paling luhur adalah berkeinginan besar untuk menjadi guru sebagaimana ucapannya, 
“Saya ingin dididik menjadi guru. Ingin mencapai dua ijazah, yaitu ijazah guru sekolah rendah dan ijazah guru kepala. Mengikuti kursus pelatihan kesehatan, ilmu balut-membalut, pemeliharaan dan perawatan orang sakit, memperdalam seni kerajinan danketerampilan serta ilmu pengetahuan yang lain”.)*ibid hal. 65
Dalam pandangan dan pemikiran Kartini, apabila kaum perempuan telah memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang luas, jika kaum perempuan telah memiliki sejumlah keterampilan sebagaimana yang dimiliki oleh kebanyakan kaum lelaki, maka akan datang masanya kaum perempuan tak lagi terikat melulu bergantung kepada kaum lelaki. Kartini menyatakan, 
“Dari kaum perempuanlah seorang manusia pertama-tama menerima pendidikan dan pembelajaran, mulai belaja rmerasa, berpikir dan belajar berkata-kata”. Kartini menegaskan pula dalam satu surat yang ditulisnya, “Bagaimana ibu-ibu Bumiputera dapat mendidik anak-anaknya jika mereka sendiri tidak berpendidikan? Dapatkah mereka, kaum ibu, dipersalahkan yang karena ketidaktahuannya, karena kelemahan dan karena kebodohannya yang tidak disadarinya itu hingga merusak masa depan anak-anaknya”.)* ibid. hal. 65
R.A. Kartini dan suaminya K.R.M. A.A. Djojoadiningrat
Belenggu tradisi adat yang telah mengikat dan berakar kuat bagi kebebasan seorang wanita di masa itu membuat keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah keputrian dan melanjutkan pendidikannya ke Eropa gagal. Akan tetapi Kartini terus mencari akal untuk bisa melanjutkan sekolahnya itu. Ayahnya tak bisa berbuat banyak untuk menentang tradisi. Meskipun Ia sangat mendukung cita-cita Kartini putrinya itu untuk mendirikan sekolah keputrian bagi kaum perempuan Bumi putera. Agar apa yang menjadi harapan Kartini dapat terkabul, ayahnya yang pada waktu itu menjabat sebagai bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat memilih dan meyakinkan Kartini bahwa calon suami yang cocok dan tepat untuk Kartini sesuai dengan harapan dan cita-citanya mendirikan sekolah keputrian bagi perempuan Bumiputera dan melanjutkan pendidikannya di Eropa, adalah Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang. Karena berdasar kesepakatan dengannya, Bupati Rembang itu akan selalu mendukung dengan apa yang menjadi cita-cita Kartini. Dan, Kartini meskipun hati nuraninya menolak, akan tetapi demi kepentingan yang lebih besar, demi kemajuan kaum wanita, pada akhirnya menyetujui juga dengan jodoh pilihan orang tuanya dikawinkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat yang sudah pernah memiliki istri tiga orang itu. Ya, Kartini merelakan jiwa dan raganya untuk menikah dengan orang yang sudah beristri demi cita-citanya memajukan derajat kaum perempuan seperti dirinya. 
Jelang perkawinannya, Kartini sangat merasakan dengan suatu hal yang tak bisa dirubah. Sahabat karibnya, Stella Zeehandelaar tidak bisa memahami keputusan Kartini untuk menerima lamaran Bupati Rembang yang sudah beristri lebih dari satu itu. Akan tetapi Kartini sudah mengadakan kesepakatan-kesepakatan dengan calon suaminya itu. Ia tidak akan menggunakan bahasa kromo inggil pada suaminya seperti pada kebiasaan tradisi yang dilakukan seorang istri pada suaminya di zaman itu. Kartini tidak akan membasuh kaki sang suami pada saat upacara perkawinannya kelak. Diizinkan untuk membangun sekolah keputrian untuk kemajuan bangsanya, kaum wanita.
 
Pelaksanaan upacara pernikahan Kartini dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat pada tanggal 12 November 1903. Suaminya ternyata sangat mengerti dengan keinginan Kartini. Bahkan Kartini diberi kebebasan dan mendapat dukungan sepenuhnya untuk mendirikan bangunan sekolah keputrian yang berlokasi di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Sekolah Kartini 1918
Di sekolah yang didirikannya ini Kartini mengekspresikan segala ide dan gagasan-gagasannya dengan leluasa karena sangat didukung oleh suaminya yang memiliki kedudukan cukup tinggi sebagai Bupati di Rembang. Di sekolah keputrian ini Kartini mengajarkan berbagai seni kerajinan dan keterampilan, kesehatan dan perawatan di samping ilmu pengetahuan yang lain.
 
Satu ukiran yang terinspirasi motif Kartini
Ternyata Kartini selain dikenal dalam sejarah sebagai pejuang emansipasi wanita, Ia dikenal juga sebagai seorang seniwati. Pelopor dalam bidang disain modern, perancang seni ukir dan batik. Salah satu upaya Kartini untuk mengembangkan, merealisasikan ide dan gagasannya di sekolah kepandaian putri yang didirikannya itu dengan mengajarkan sendiri kepada murid-muridnya berbagai pengetahuan dan keterampilan terutama kerajinan ukiran dan ragam hias batik. Kemahiran dan kecakapan Kartini dalam seni ukir, seni batik dan menggambar inilah yang memotivasi Kartini untuk selalu kreatif. Mencari inovasi-inovasi baru dalam bidang seni rupa dan disain. Dalam karya-karyanya Kartini selalu berupaya memasukkan konsep-konsep keindahan dan nilai-nilai tradisi Jawa, meskipun sudah mengalami pembaharuan-pembaharuan sehingga bentuknya menjadi lebih modern. Pembaharuan ini bisa dilihat dari beberapa karya-karya Kartini seperti yang terdapat pada kotak perhiasan, pigura, kursi rotan, dan batik. Ada salah satu batik motip bunga karya R.A. Kartini yang sampai sekarang masih sangat digemari masyarakat, bahkan menjadi motif standar dijadikan acuan dasar pembuatan  seni ukir kayu Jepara yaitu motip "LunglunganBunga". Bahkan hingga kini motip lunglungan bunga menjadi ciri khas motip "Jepara Asli". 
Dari perkawinannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat, Kartini dikaruniai seorang putera, Anaknya yang  pertama dan sekaligus juga yang terakhir yang diberi nama, Soesalit Djojoadhiningrat yang dilahirkan pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, pada tanggal 17 September 1904, Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia relative muda 25 tahun. Jenazah R.A. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihan Kartini memperjuangkan derajat kaum wanita agar memiliki  persamaan hak dalam pendidikan, Yayasan Kartini yang didirikan oleh keluarga “Van Deventer” seorang aktifis politik etis(balas budi) di Semarang pada 1912, mendirikan sekolah Kartini di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya dengan nama   "Sekolah Kartini".  
Begitu pula seorang komponis, pahlawan nasional W.R. Soepratman pencipta lagu Indonesia Raya, menciptakan sebuah lagu khusus untuk mengenang jasa R.A. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita yang tak kenal lelah bahkan merelakan jiwa raganya untuk kemajuan kaum perempuan melalui pendikan, diberi judul “R.A. Ajeng Kartini”. 
Referensi:
*Sri Hartatik, A.Ma,Pd “Kumpulan Kisah Pahlawan Indonesia”. Bintang Indonesia
*Slamet Priyadi, Drs. “R.A. Kartini Juga Seorang Seni Wati” Forum Guru Seni Budaya
*Agus Sachari, “Seni Rupa dan Disain” Erlangga
*Wikipedia Bahasa Indonesia, “R.A. Kartini”. google.com
Penulis:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor

"KITA SEMUA WAYANG": Sosok Pejuang Emansipasi Wanita "R.A. Kartini" By ...: Denmas Priyadi Blog | Minggu , 2 1 April 2013 | 14:26 WIB Raden Ajeng Kartini (1879 - 1959) R.M. Adipati Ario Sosroningrat S...

Rabu, 27 Februari 2013

Rahmi Sukses Menjadi Juragan Sekolah Anak



Kamis, 21 Februari 2013 | 09:18 WIB
Rahmi Juragan Sekolah anak
KOMPAS.com - Berawal dari niat untuk membantu ekonomi keluarga, Rahmi Salviviani (30) kini sukses menjadi pengusaha di bidang pendidikan di Pekanbaru, Riau. Perempuan yang akrab disapa Vivi ini membuka taman kanak-kanak (TK) yang kini sudah punya sembilan cabang di Pekanbaru dan Palembang.

Vivi merintis usaha ini sejak 2008. Saat itu, ia masih menggunakan merek waralaba lokal. Setelah dua tahun bisnisnya berjalan, ia berani memakai merek sendiri Alifa Kids dan fokus ke pendidikan anak usia dini.
Alasan Vivi memilih nama Alifa Kids sejatinya untuk merepresentasikan visi dari sekolah yang ia bangun. Yakni amanah, loyal, integritas, fatonah atau cerdas, adil, kerja sama, inisiatif, disiplin, dan santun. Ia berharap, siswa yang belajar di TK Alifa Kids bisa menjadi anak pintar dan siap melanjutkan pendidikan SD dengan cara menyenangkan. 

Lulusan Hubungan Internasional Universitas Riau ini mengakui, bisnis yang ia jalani berawal dari keinginan membantu perekonomian keluarga. Saat itu, ia memiliki seorang putri berusia empat bulan. Vivi ingin tetap bisa produktif, sekaligus mendidik sendiri si kecil. Melalui Alifa Kids, Vivi ingin membantu orang tua yang memiliki keterbatasan waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. "Kami ingin memfasilitasi orang tua agar terampil dan punya waktu berkualitas saat bersama anak-anak," katanya.

Pendidikan di Alifa Kids fokus terhadap pembentukan karakter anak. Ia percaya bahwa kesuksesan seorang anak tidak dari intelligence quotient (IQ) saja, tapi sekitar 85 persen sukses berasal dari karakter seseorang. Kini, Alifa Kids memiliki 350 siswa. Alifa Kids memungut biaya bulanan di sekolah ini Rp 375.000 untuk siswa half day dan Rp 800.000 untuk siswa full day. Alifa Kids juga memungut biaya tahunan Rp 4 juta–Rp 5 juta. Kini usaha Vivi telah meraih beberapa penghargaan, seperti juara pertama event Honda Youth Start Up tingkat regional dan Nasional yang diadakan Mark Plus. Tidak hanya itu, bisnis pendidikan ini juga yang mengantarkan Vivi menjadi finalis nasional di Wirausaha Muda Mandiri yang diadakan Bank Mandiri. 

Alifa Kids kini memiliki sekitar 60 pegawai di bawah Alifa Management. Vivi mendorong orang-orang yang bekerja di Alifa Kids bisa lebih mandiri. Ia tak segan-segan mendorong mereka untuk berwirausaha.
Terbukti, beberapa dari mereka sepulang mengajar juga menjalankan usaha kelompok, seperti menjual pakaian di lingkungan tempat mereka tinggal. 

Sejak tahun 2001, Vivi juga menjadi pengurus komunitas pengusaha di Pekanbaru. Ia sering mengadakan kelas mentoring dengan mengundang mentor-mentor ternama dari berbagai kota. "Mentoring ini untuk berbagi ilmu pada pegawai saya juga dan mendorong mereka untuk berwirausaha," ujarnya.     

Bekali diri
Rahmi Salviviani merintis bisnis pendidikan pada tahun 2008. Saat itu, Vivi meminjam modal dari saudara-saudaranya sebesar Rp 50 juta. Modal tersebut masih jauh dari mencukupi. Namun wanita yang akrab disapa Vivi ini tidak berputus asa. Ia memaksimalkan modal yang ada dan langsung memasarkan TK Alifa Kids. Selang beberapa bulan, Vivi meminta suaminya berhenti dari pekerjaannya untuk turut membantu mengembangkan TK Alifa Kids.
Ia sangat membutuhkan dukungan suami lantaran ia sendiri sangat minim pengalaman di dunia bisnis. Untuk menambah wawasan seputar bisnis, Vivi dan suami membekali diri dengan mengikuti pelatihan tentang wirausaha maupun tentang pendidikan. 

“Investasi terbesar kami adalah mengikuti pelbagai training,” tuturnya. Menurut Vivi, sebuah bisnis akan berjalan lancar bila seseorang sudah membekali diri dengan pengetahuan yang cukup.
Makanya, di awal-awal merintis bisnis, ia lebih memilih meningkatkan kapasitasnya, terutama dalam hal pemahaman bisnis pendidikan. 

Selain rajin mengikuti seminar dan pelatihan, Vivi juga rajin melahap buku-buku soal kepemimpinan.
Kendati sudah membekali diri dalam hal pengetahuan, ternyata hal itu tidak menjamin bisnis bakal berjalan lancar. Terbukti, masih banyak kendala yang ditemui Vivi dalam menjalankan usaha ini, terutama menyangkut kebutuhan anak-anak serta orang tua yang semakin beragam. Tidak jarang kebutuhan anak-anak dengan orang tua berbeda. Dalam mengatasi semua kendala itu, Vivi menetapkan standar kualitas pendidikan sebagai hal utama. Bila hal ini berhasil, ia yakin prinsip ini menjadi kekuatan sekolah. 

Hal penting lainnya adalah terus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) secara terus-menerus. Menurut Vivi, banyak model pendidikan anak usia dini yang masih jauh dari harapan, terutama dalam hal membentuk attitude alias sikap. Mengatasi hal ini, Vivi membuat sistem sendiri di Alifa Management. Setelah merekrut tenaga pengajar, ia mewajibkan karyawannya menempuh masa training di pusat pelatihan.  “Kalau saya lihat mereka sudah siap, barulah ditempatkan di cabang Alifa Kids,” ucap dia. 

Masalah SDM ini tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, bisnis pendidikan merupakan usaha yang berbasis manusia (human based). Pemahaman yang berbeda mengenai sistem pendidikan membuat Vivi sebagai pemilik usaha dengan karyawannya kerap salah paham di awal bisnis. Selama hampir lima tahun menjalankan usaha ini, kini Vivi mulai memetik hasil jerih payahnya. Ia mengaku bangga terjun ke bisnis pendidikan. Soalnya, selain berorientasi laba, bisnis ini juga memiliki manfaat sosial yang besar. Vivi bilang, melalui bisnis pendidikan, ia memiliki peluang untuk turut mencerdaskan generasi muda. Tidak saja mementingkan dimensi intelegensia, ia juga mengembangkan metode pembelajaran yang menekankan aspek emosional dan spiritual anak. "Pembentukan emosional dan spiritual harus dimulai sedini mungkin," ujarnya.   

Perguruan tinggi
Setelah sukses mengembangkan taman kanak-kanak (TK) Alifa Kids, Vivi kini berambisi melebarkan sayap bisnisnya ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Ia ingin membuka sekolah dasar (SD). Ia berencana mendirikan SD di Kota Pekanbaru. Untuk sekolah TK, Vivi berharap jaringan Alifa Kids bisa menjangkau beberapa kota besar di Indonesia. 

Saat ini, jaringan TK Alifa Kids hanya ada di Pekanbaru dan Palembang. Dalam jangka panjang, Vivi bahkan ingin bisnis pendidikannya bisa merambah hingga ke tingkat universitas. Vivi juga berencana mewaralabakan TK Alifa Kids, meski bukan dalam jangka pendek. Soalnya, masih banyak persiapan yang harus dimatangkan sebelum benar-benar menawarkan jenis kerjasama ini. “Pada dasarnya, saya tidak mau merugikan pihak yang tertarik untuk bermitra atau menjadi franchisee Alifa Kids,” ucap dia. 

Makanya, Vivi mengaku tidak akan tergesa-gesa merealisasikan seluruh rencana pengembangan bisnisnya itu. Ia tak ingin, karena terburu-buru malah hasilnya tidak bagus. Paling mungkin, dalam jangka pendek, Vivi akan merealisasikan rencana pendirian SD di Pekanbaru. Ia berharap, rencananya itu bisa terealisasi dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. 

Sembari merintis pendirian SD, Vivi juga tetap fokus membesarkan TK Alifa Kids. Menurut Vivi, Alifa Kids yang dikelolanya belum sepenuhnya aman. Soalnya, dari segi usia, baru menginjak lima tahun. "Ini belum melewati titik aman pertama dari sebuah siklus bisnis," katanya. 

Vivi menekankan, bahwa arah bisnis jauh lebih penting ketimbang kecepatan. Makanya, ia tidak mau tergesa-gesa untuk berekspansi. Vivi juga mengaku belum tergoda untuk mencoba peruntungan di sektor lain. 

“Godaan untuk masuk ke sektor usaha lain seringnya menjadi 'racun' bagi sebagian besar entrepreneur terutama pemula,” tuturnya. Kata Vivi, banyak pebisnis pemula yang gagal ketika tergoda mencoba peruntungan di sektor lain. 

Tak jarang, bisnis yang sebelumnya sudah dirintis turut goyang karena memang belum begitu stabil. Pengusaha yang rutin mengikuti mentoring dari komunitas Tangan Di Atas (TDA) ini tidak lupa memberikan tips bagi siapa saja yang tertarik terjun ke bisnis pendidikan. Menurutnya, dalam bisnis ini, penting memperlakukan karyawan sebagai mitra, bukan semata pekerja. Selain itu, sekolah harus terus mencari dan memberikan nilai tambah pada jasa yang ditawarkan. “Makanya, bisnis itu tidak bisa serba instan, semua butuh waktu,” kata Vivi. 

Lantaran ini bisnis pendidikan, penting juga untuk peduli terhadap masyarakat sekitar, khususnya mereka yang tidak mampu. Vivi mengaku, selama ini, Alifa Kids selalu memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak yatim dan dhuafa.

"Kami melowongkan sekitar 10 persen dari total kapasitas untuk mereka," ujarnya.
Vivi punya impian, di negara maju, pemerintah cukup punya peranan aktif di dalam memajukan pendidikan bagi setiap warganya. Ia berharap, hal serupa juga terwujud di Indonesia.  
 
Sumber :
(Marantina/Kontan)

Editor :
Erlangga Djumena