Rabu, 21 Desember 2011

DPR: Jangan Naikkan Harga Tebus Raskin, Itu Bebani Rakyat


Oleh Srihandriatmo Malau | TRIBUNnews.com
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau

PEMBAGIAN RASKIN ( Beras Miskin )
RABU, 21 DESEMBER 2011 - TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Viva Yoga Mauladi tidak sepakat dengan rencana pemerintah menaikkan harga tebus beras miskin (raskin) dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.500 per kilogram (kg). Dengan naiknya harga tebus raskin tersebut, tegasnya, maka masyarakat miskin akan semakin terbebani.

“Tidak sepakat karena hal itu akan membebani masyarakat miskin,” demikian ditegaskan Viva kepada Tribunnews.com, di Jakarta, Rabu (21/12/2011).

Dia menilai langkah yang seharusnya dilakukan bukan menaikkan biaya raskin, tetapi Bulog harus direformasi, terutama dari struktur dan kebijakannya.  Karena, menurut dia, Bulog tidak mempunyai aparat sampai ke tingkat desa. Dia melihat juga penyerahan beras raskin masih banyak penyimpangan di lapangan karena Bulog tidak profesional dan unmanagable.

“Misalnya untuk beras raskin, Bulog memberikan 50 kg per karung yang seharusnya sudah dibungkus per 15 kiloan,” demikian dia mengutarakan.

Kemudian, data Rumah Tapat Sasaran (RTS) raskin tidak valid dan mengalami penyimpangan, karena banyak juga yang mendapat raskin termasuk kategori mampu.

“Itu dulu yang dibenahi. Karena untuk beras raskin, Bulog mendapatkan dana APBN. Untuk tahun 2012 mendapatkan dana sekitar Rp 15,7 triliun,” ia menegaskan.

Lanjut Viva, kalau data kemiskinan dari pemerintah menunjukkan angka semakin turun, maka idealnya biaya raskin juga harus semakin turun.

“Kalau dana raskin semakin besar maka jelas itu suatu bukti bahwa ada moral hazzard dalan kebijakan raskin nasional,” kritiknya.







Posted by Slamet Priyadi di Lido - Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar