Selasa, 17 Maret 2015

MACAN WELANG YANG MALANG Diceritakan Oleh Kak Sita



Macan Welang

ADIK-ADIK, sekarang Kak Sita mau mendongeng tentang seekor harimau loreng atau macan welang yang sangat setia dan loyal kepada tuannya sungguh perlu dicontoh dan diapresiasi menjadi teladan bagi kita bangsa manusia.  Adik-adik lokasi Kp. Pangarakan masih termasuk wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.  Keadaan alamnya bisa dikatakan indah dengan cuaca yang sejuk diapit oleh dua buah gunung yang sampai sekarang masih mengandung banyak misteri, di sebelah barat terdapat Gunung Salak dan di sebelah timur terdapat Gunung Gede atau Gunung Pangrango.  Dari sinilah dongeng ini Kak Sita mulai.  Adik- adik, selamat membaca!

Dahulu kala, konon di Kp. Pangarakan tinggal sepasang suami istri yang bernama Kang Permana dan Teh Permani yang pekerjaan sehari-harinya, untuk menghidupi keluarganya, hanya dari bercocok tanam, berkebun, bertani dan menanam padi di sawah.  Kehidupan rumah tangga sepasang suami istri, Kang Permana dan Teh Permani itu nampak cukup bahagia, tenteram dan damai, akan tetapi mereka hingga kini belum juga dikaruniai seorang anak.  Tempat tinggal mereka berada di tepi kali Sadane yang airnya begitu jernih, bening dan bersih. Oleh penduduk setempat sungai itu digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti mencuci pakaian, mencuci piring, mandi dan buang air besar, bahkan karena kejernihan, kebeningan dan kebersihan air sungai Sadane itu, sebagian besar penduduk setempat menggunakannya untuk minum. 

Pada suatu hari Kang Permana, hendak pergi membersihkan kebun jagung miliknya yang letaknya jauh di atas bukit.  Menuju ke sana harus melewati hutan kecil yang banyak ditumbuhi pohon-pohon bambu, naik-turun melalui jalan setapak yang licin jika hujan mengguyur bukit itu.  Akan tetapi cuaca di pagi hari itu kebetulan sangat cerah, sang Mentari pagi bersinar putih keperakan. Maka berkatalah Kang Permana kepada istrinya: 

“Istriku, kau jagalah baik-baik dirimu, jangan sampai pergi jauh, akang mau ke kebun dulu melihat tanaman jagung, mudah-mudahan sudah ada yang bisa dipanen?!”
“Ya, kang hati-hatilah di jalan!” demikian jawab istri Kang Permana sambil menyerahkan perlengkapan berkebun seperti pacul, sabit  parang dan keranjang kecil yang baru diambilnya dari belakang rumah.

Dengan membawa perlengkapan yang dibutuhkan, berangkatlah Kang Permana ke ladang kebun jagungnya yang berada jauh di atas bukit.  Dia terus melangkah melewati jalan setapak di tengah-tengah hutan bambu yang daunnya begitu rindang bergoyang-goyang berbunyi kemerisik, dan batangnya bersuara gruyat-gruyut karena tiupan angin pagi di bukit Pangarakan  berhembus sangat kencang.  Sementara cahaya Sang Surya pagi yang menembus lewat celah-celah daun bambu meskipun sedikit menyengat tak membuat Kang Permana merasa terhambat, dia terus melangkah dengan penuh semangat menuju ladang kebun jagungnya yang berada di atas bukit Pangarakan.

Dua jam sudah Kang Permana berjalan, ladang kebun jagung yang dituju sudah nampak di depan mata, kurang lebih 10 meter lagi di pengkolan jalan arah ke kanan.  Akan tetapi sungguh tak dinyana-nyana, persis di pengkolan jalan bertugu batu, dia mendengar suara auman harimau seperti yang sedang kesakitan, dan dari pengkolan jalan itu seekor anak harimau yang masih kecil berlari-lari ketakutan.  Melihat Kang Permana anak harimau itupun berlari menuju ke arah dirinya, mengeos-ngeoskan badannya ke arah kaki Kang Permana.  Melihat anak harimau yang masih teramat kecil, masih memerlukan susu induknya itu, dan terus mengeoskan badannya di kaki Kang Permana, dia menjadi iba lalu digendongnya anak harimau itu seraya berkata:

“Ada apa anak macan, kenapa seperti yang ketakutan, di mana indukmu?”  bertanya Kang Permana kepada anak harimau sambil mengelus-elus kepala anak harimau kecil yang berbulu lembut dan nampak lucu itu.

Mendengar  pertanyaan Kang Permana, anak harimau kecil itu seperti mengerti, ia meronta-ronta sambil mengeong-ngeong,  suaranya seperti suara kucing, agaknya minta dilepas dari gendongan Kang Permana. Kang Permana memahami keinginan anak harimau, dia lalu membungkukkan badannya melepas kembali anak harimau yang pada saat itu juga berlari-lari kecil menuju ke arah semula tempat tadi ia datang, sambil sebentar-sebentar menolehkan  kepalanya ke arah Kang Permana.  Melihat tingkah laku anak harimau kecil itu, Kang Permana lalu mengikutinya dari belakang sambil berkata sendiri dalam hati,
“Hm... ada kejadian apakah di ladang kebun jagungku? Anak harimau kecil itu nampaknya ketakutan sekali, dan seperti ingin memberitahukan bahwa ada peristiwa tertentu yang membuatnya bertingkah laku seperti itu!”

Benar saja, setiba di pengkolan arah ke kanan menuju ladang kebun jagung,  persis di bawah gerumbul pohon bambu yang rimbun, ada ular sanca besar berkulit kembang-kembang berwarna hitam kekuningan sedang melilit tubuh seekor harimau loreng yang nampak sudah tak berdaya dan kepalanya sebagian sudah tertelan berada di mulut sang ular sanca besar yang badannya sebesar batang pohon kelapa dengan panjang sekitar 15 meter itu.  Rupanya harimau loreng yang tewas dimangsa ular sanca besar itu adalah induk dari anak harimau kecil yang tadi datang minta pertolongan Kang Permana.  Mungkin saja saudaranya yang lain sudah tewas ditelan lebih dulu dan hanya dia sendiri yang selamat dari sergapan ular sanca besar itu.  Tak mau menanggung resiko bahaya yang akan dihadapi jika melanjutkan perjalannya menuju ladang kebun jagung miliknya, akhirnya Kang Permana berbalik arah untuk kembali ke pondoknya.  Baru sepuluh langkah berjalan, sontak dia ingat akan anak harimau kecil yang tadi datang menghampirinya, “Oya, lebih baik aku pelihara saja anak harimau yang induknya sudah tewas dimakan ular sanca raksasa itu, kebetulan hingga kini akupun belum mempunyai anak, dan sebaiknya aku ambil dan aku angkat saja dia sebagai anakku sendiri, mudah-mudahan istriku di rumah juga akan menyetujuinya.”  Akhirnya Kang Permana pun kembali berbalik ke tempat semula.  Ketika Kang Permana  berbalilik, dia  melihat anak harimau kecil itu berada di belakangnya, rupanya anak harimau kecil itu mengikuti terus  ke mana ia pergi.

Perasaan iba dan rasa empati yang begitu besar terhadap nasib si anak harimau yang masih kecil dan masih butuh perlindungan dan air susu dari induknya  itu, membuat Kang Permana begitu antusias dan bersemangat, dia bertekad untuk menolong dan memelihara sang anak harimau itu. Segera diapun menggendong anak harimau kecil itu dan dibawanya kembali pulang ke pondoknya.  Dalam hatinya ia berharap istrinya tidak marah dengan apa yang telah dilakukannya.  Segera diapun menggendong si anak harimau lalu dimasukkan ke dalam keranjang bambu yang ada dipundaknya, dan selanjutnya dengan teresa-gesa dia melangkahkan kakinya berjalan menuju pondoknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar