Kamis, 26 Maret 2015

"KEHAMILAN PERTAMA" By Hugh Jolly


PERASAAN  yang dialami seorang wanita pada saat disadarinya bahwa ia telah mengandung untuk pertama kalinya, kiranya tergantung  dari apakah  kehamilan  itu memang  sudah  direncanakan, atau tidak diinginkan.  Namun,  pada kehamilan  yang  menurut  rencana  dan  sangat diinginkan sekalipun, perasaan gembira selalu tercampur dengan perasaan gelisah.


Wanita yang sedang mengandung merasa dirinya lebih rawan; ia tahu bahwa tindak-tanduknya dapat membahayakan kesehatan bayi yang akan dilahirkannya. Tidak boleh tidak ia selalu memikirkan dan mencemaskan keselamatan bayinya itu — baik fisik maupun emosional.

Tidak diragukan bahwa kebanyakan ibu kalau mungkin lebih senang melahirkan di rumah sendiri. Tetapi di zaman sekarang ini jarang, bahkan hampir tak ada, dokter yang tersedia membantu kelahiran bayi di rumah ibunya sendiri. Memang melahirkan di rumah sakit adalah yang paling aman. Alangkah baaiknya kalau segi keamanan ini dilengkapi pula dengan segi manusiawi.

Melahirkan bayi adalah perkara keluarga dan hendaknya tetaplah demikian, walau harus dilaksanakan di rumah sakit sekalipun. Sebab sekarang ini sudah terlalu lama adanya tradisi suami seakan-akan diasingkan dari masalah kehamilan dan sakitnya melahirkan. Cobalah kita pikirkan, hanya berapakah jumlah suami yang mau menemani istrinya ke klinik bersalin. Bahkan pada kunjungan pertama yang sangat penting ketika hamil atau tidaknya sang istri itu dipastikan. Seakan-akan tanggung jawab yang menyangkut peristiwa penting ini lebih terletak di tangan  dokter dan rumah sakit daripada sang suami.

Di beberapa rumah sakit, suami yang menemani istrinya ke klinik bersalin dipersilahkan menunggu di ruang lain, seperti tak usah tahu-menahu. Semestinya dokter menganjurkan kepada bidan dan orang-orang lain yang bekerja di klinik untuk mempersilahkan para suami yang menemani istrinya supaya ikut duduk dan mendengarkan segala penjelasan mengenai hal-hal yang berkait dengan masalah kehamilan, mengenai perubahan psikologis selama ibu mengandung, mengenai sakitnya saat melahirkan yang tidak boleh tidak akan diderita oleh wanita yang melahirkan. Semua itu adalah persoalan istri maupun suami.

Pada waktu sekarang ini, lebih baik kalau suami-istri di beri tahu tentang peranan masing-masing pada waktu kelahiran bayi mereka. Sebab semakin banyak suami yang menghendaki untuk mendampingi istri tersayangnya selama melahirkan. Tetapi untuk itu diperlukan adanya penerangan dan latihan secukupnya, kalau tidak ingin terjadi kekecewaan terhadap teman sehidup-sematinya itu. Melahirkan bukanlah barang sembarangan. Sungguh tidak seyogyanya membiarkan suami menunggui istri pada peristiwa penting itu tanpa dipersiapkan sebelumnya.

Kiranya cukup lazim bahwa untuk melahirkan, seorang wanita dibawa ke rumah sakit yang paling dekat. Namun demikian, tidak ada yang menjadi penghalang kalu ia minta diantar ke rumah sakit manapun juga, asal dokter setuju asal tempatnya tidak terlampau jauh untuk dicapai pada waktunya setelah rasa sakit untuk melahirkan mulai.

Dalam hal menentukan pilihan akan massuk ke rumah sakit mana, pengalaman teman-teman akan sangat besar pengaruhnya. Rumah sakit yang mementingkan peri kemanusiaan akan menyerahkan bayi itu kepada ibunya begitu dokter atau bidan merasa yakin bahwa si bayi sudah bernafas secara norml. Hal ini kadang-kadang terjadi lama sebelum placenta  keluar. Kontak kulit antara ibu dan bayi sangat penting dan sangat wajar bagi seorang ibu untuk memeluk bayinya melekat pada payudaranya yang mungkin saja akan segera dihisap.

Demikian pula, wajar bahwa tempat tidur bayi ditempatkan bersebelahan dengan tempat tidur ibunya. Juga tak ada batasan tentang kapan anak kecil itu boleh ditaruh pada sisi ibunya kalau menangis atau kalau sang ibu menginginkannya. Hendaknya jangan dianggap abnormal jika ada ibu yang menghendaki agar bayinya ditidurkan bersebelahan dengan dirinya di satu tempat tidur. Satu-satunya resiko untuk melakukan hal itu ialah bahwa si bayi dapat terjatuh dari tempat tidur yang tinggi. Orang menganggap tidak mungkin lagi bahwa seorang ibu akan menindih bayi yang sehat.

Bahkan pada waktu malam, sungguh ideal kalau bayi tidur di sebelah ibunya. Banyak ibu yang merasa lebih tenang untuk mengambil dan menyusui bayinya setiap bayi itu menangis daripada harus bercemas-cemas memikirkan apa yang terjadi dengan makhluk kecil itu di ruang lain yang terpisah. Ha ini lebih menyulitkan kalau bayi itu cukup dekat dengan ruang ibunya sedang wanita itu belum hafal dengan suara bayinya sendiri dan belum dapat membedakannya dari suara bayi-bayi lain. 

Kakak dari si bayi, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan pengunjung yang sama pentingnya dengan ayahnya. Mereka itu hendaklah diperkenankan berkunjung bersama ayah mereka setiap saat kecuali pada waktu si bayi dan si ibu sedang istirahat. Resiko penularan penyakit dari seorang kakak yang sehat kepada si kecil adalah lebih kecil daripada penularan antara pasien di rumah sakit lewat dokter atau perawat. Sedangkan kalau anak-anak tidak diizinkan mengunjungi adik barunya, pengaruhnya bisa sungguh-sungguh tidak baik bagi hubungan kekeluargaan mereka.

Jika kelahiran berjalan normal, seorang wanita cukup tinggal di rumah sakit selama “empat puluh delapan jam”, artinya dua hari setelah kelahiran si bayi ia dapat pulang dan perawatan kesehatan selanjutnya sudah lepas dari rumah sakit dan dikembalikan ke dokternya atau bidan yang menangani sebelum kelahiran. Syukur jika yang membantu kelahiran adalah dokter atau bidan yang telah mengurusnya selama perawatan kehamilan, sehingga terdapat kontinuitas perwatan.

Kini marilah kita kembali ke pemikiran tentang bagaimana anda dapat memberikan perlakuan yang sebaik-baiknya bagi si kecil selama masih dalam kandungan. Anda mungkin kerapkali kuatir jangan sampai janin dalam kandungan anda terluka karena anda terjatuh atau semacam itu, tetapi hendaklah anda tahu bahwa dalam kandungan, janin itu sangat aman berbantal otot-otot dan cairan yang melingkupinya sehingga sangat sulit janin itu terluka meskipun oleh pukulan yang sangat kuat.

Penularan penyakit lebih merupakan resiko bagi bayi selama mingu-minggu pertama dalam kandungan. Yang penting di antaranya adalah penyakit campak, sebab penyakit itu bisa dicegah dengan vaksinasi pada gadis-gadis sang calon ibu sejak usia sebelas sampai empat belas tahun. Penyakit-penyakit lain wajar juga untuk dihindari. Misalnya, cukup bijaksana jika anda tidak mengunjungi teman yang jelas sedang sakit influensa. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa anda tidak boleh ke luar rumah karena takut masuk angin. Jika anda pergi ke dokter lain karena suatu penyakit, katakanlah selalu bahwa anda sedang mengandung. Hal ini bisa mempengaruhi soal pemberian obat — misanya saja, lebih baik kalau selama mengandung anda tidak diberi antibiotik tetracycline, yang dapat menyebabkan gigi bayi menjadi kuning, dan mungkin berpengaruh jelek atas pertumbuhan tullangnya. Sebaliknya sedapat mungkin anda menghindari minum obat selama kehamilan, sebab tak ada yang dapat mengatakan bahwa suatu obat seratus persen aman. Bahkan aspirin pun dewasa ini termasuk diragukan pengaruhnya. Lagi pula, jika bayi anda lahir dengan masalah kecil sekalipun, anda mungkin akan bertanya-tanya dalam hati apakah hal itu tidak disebabkan karena obat tertentu yang telah anda minum selama kehamilan, dan perasaan bersalah mungkin akan selalu merongrong ketenangan hati anda.

tentang soal makan, tak ada alasan untuk membuat pantangan-pantangan yang rumit, atau keharusan makan ini dan itu misalnya. Tentu saja anda tidak perlu makan dobel sebagaimana kelakar banyak orang. Bahkan anda perlu memperhatikan pertambahan berat badan anda sehingga jangan melebihi yang baik menurut anjuran dokter. Protein harus cukup dan tidak boleh ada lemak dan karbohidrat yang berlebihan. Segelas susu setiap hari baik untuk menjaga agar gigi anda jangan menderita karena kekurangan kalsium. Kata-kata orang dulu bahwa setiap kelahiran menghilangkan satu gigi hanyalah menunjukkan kurangnya kalsium pada makanan anda.

Satu hal lagi; jika anda seorang perokok, hentikan merokok begitu anda mengetahui bahwa anda mengandung. Meroko mengakibatkan bayi lebih kecil dan karenanya kecerdasannya juga kelak akan berkurang.

Referensi:
Hugh Jolly, Membesarkan Anak Secara Wajar

Kamis, 26 Maret 2015-13:49 WIB
Sita Rose
Di Pangarakan, Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar